SUBANG, iNEWSSubang.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Subang mengalami peningkatan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Subang mencatat sebanyak 941 kasus DBD dengan 10 orang meninggal dunia.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pada Januari hingga Agustus 2025, tercatat 806 kasus DBD dengan enam orang meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Subang, dr. Indriati Oetama, mengatakan kasus DBD yang menyebabkan kematian umumnya dipengaruhi keterlambatan diagnosis maupun kondisi kesehatan pasien yang sudah memiliki penyakit lain.
“Rata-rata yang meninggal karena DBD itu umumnya usia muda atau anak-anak, dan usia tua sekali atau lansia,” ujar Indriati saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, kasus DBD tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Subang. Salah satu wilayah dengan temuan kasus yang cukup tinggi berada di Kecamatan Sukarahayu.
Indriati menjelaskan, DBD disebabkan virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut berkembang biak di tempat-tempat yang terdapat genangan air.
“DBD disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan melalui nyamuk Aedes aegypti,” katanya.
Ia menuturkan, tempat penampungan air seperti bak mandi dan gentong menjadi salah satu lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti apabila tidak dibersihkan secara rutin.
Faktor cuaca juga turut memengaruhi perkembangbiakan nyamuk. Kondisi hujan yang diselingi panas dinilai menjadi kondisi yang mendukung siklus perkembangbiakan nyamuk.
“Nyamuk sebenarnya lebih suka kondisi hujan yang ada panasnya untuk berkembang biak. Kalau panas saja juga suka, tetapi tempat perkembangbiakannya terbatas,” jelasnya.
Dinkes Ingatkan 3M Plus
Untuk menekan penyebaran DBD, Dinkes Subang terus mendorong masyarakat menerapkan pola pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus.
Gerakan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan air.
“Yang paling penting adalah menutup tempat-tempat penampungan air, menguras bak mandi maupun tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas seperti ban bekas dan lainnya,” tegas Indriati.
Sementara itu, langkah “plus” dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk, antara lain menggunakan kelambu, memakai losion antinyamuk, serta menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk seperti lavender dan serai.
Dinkes Subang mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya kasus di lingkungan sekitar untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk.
"Kebersihan tempat penampungan air dan lingkungan menjadi salah satu langkah penting untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti," tukasnya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
