SUBANG, iNEWSSubang.id — Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Subang mengalami kekeringan hingga krisis air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang mencatat sebanyak 21 kecamatan dan 65 desa terdampak kekeringan. Selain itu, kekeringan juga berdampak terhadap 2.084 hektare areal persawahan yang mengalami kekurangan air.
Sekretaris BPBD Kabupaten Subang Asep Sudrajat mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena berdampak langsung terhadap kebutuhan air masyarakat dan sektor pertanian.
“Sebanyak 65 desa terdampak kekeringan, dengan areal sawah yang mengalami kekurangan air seluas 2.084 hektare,” ujar Asep Sudrajat saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/9/2026).
Menurut Asep, dari puluhan desa yang terdampak kekeringan, sebanyak 17 desa yang tersebar di 12 kecamatan mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut berdampak terhadap 6.905 kepala keluarga atau sekitar 20.114 jiwa.
“Untuk krisis air bersih, ada 17 desa dari 12 kecamatan yang terdampak. Jumlahnya mencapai 6.905 KK atau sekitar 20.114 jiwa,” katanya.
Sebagai langkah penanganan, BPBD Kabupaten Subang telah menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang mengalami kekurangan air. Penyaluran dilakukan berdasarkan instruksi Bupati Subang serta permintaan dari masyarakat di wilayah terdampak.
“Hingga 8 September 2026, kita sudah menyalurkan 265.000 liter air bersih kepada masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih,” ungkap Asep.
Selain kekeringan dan krisis air bersih, musim kemarau juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BPBD Subang mencatat sepanjang Januari hingga September 2026, karhutla terjadi di 14 kecamatan yang tersebar di 36 desa. Luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 136 hektare.
“Itu ada lahan perkebunan, lahan halaman, kemudian areal ladang,” jelasnya.
Ade menyebutkan, sejumlah faktor dapat memicu terjadinya karhutla, di antaranya gesekan rumput kering, pembakaran sampah, hingga aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Mengantisipasi dampak musim kemarau, BPBD Subang mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat dan bijak serta menjaga kelestarian lingkungan.
Sementara untuk mencegah karhutla, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta meningkatkan pengawasan terhadap kawasan hutan dan lahan.
“Bijak dalam menggunakan air, kemudian hindari aktivitas yang berisiko memicu kebakaran,” pungkas Asep.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
