SUBANG, iNEWSSubang.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Subang menyiapkan empat strategi untuk mempertahankan seni dan budaya lokal agar tetap hidup di tengah era digitalisasi dan modernisasi.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Subang, Ade Intra, mengatakan empat strategi tersebut meliputi perlindungan, pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan.
“Langkah-langkah penjagaan, pelestarian dan pemajuan itu ada tahapannya. Pertama kebudayaan harus dilindungi, kemudian ada pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan,” kata Ade, Jumat,(11/9/2026).
Menurutnya, perlindungan dilakukan dengan mencatat, mendaftarkan dan mendokumentasikan berbagai kesenian serta budaya lokal. Dokumentasi dapat dibuat dalam bentuk tulisan, buku maupun video.
“Dicatat, didaftarkan, termasuk ceritanya dan kronologisnya secara deskriptif. Kemudian diberi registrasi dan didokumentasikan. Yang paling mudah sekarang melalui video,” ujarnya.
Disdikbud juga mendorong generasi muda memanfaatkan media digital untuk mengenalkan budaya. Salah satunya melalui lomba vlog yang mengangkat kesenian, kuliner dan sejarah daerah.
Selain itu, pembinaan dilakukan melalui sekolah, sanggar, workshop dan seminar. Sementara pengembangan diarahkan agar kesenian tradisional tetap diminati tanpa menghilangkan nilai dasarnya.
“Kalau ada kesenian yang sudah ketinggalan zaman, bukan berarti ditinggalkan. Tetapi dikembangkan supaya tetap diminati,” katanya.
Ade menilai pemanfaatan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan budaya. Seni tradisional perlu memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat, termasuk melalui kegiatan ekonomi dan ruang publik.
“Kalau pemanfaatannya bagus, semuanya akan berjalan dengan sendirinya secara alami,” ujarnya.
Di Subang, kesenian seperti sisingaan, doger, gembyung dan genjring bonyok masih berkembang. Bahkan sisingaan telah diperkenalkan di sekolah.
“Sekarang kalau disuruh, hampir setiap sekolah bisa sisingaan,” katanya.
Ade menegaskan seni budaya harus mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai tradisinya.
“Tugas seniman bagaimana membuat orang tetap menyukai, tetapi tidak mengubah nilainya,” pungkasnya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
