Kado Spesial Kemerdekaan untuk Petani Jalupang Subang
Tanaman diratakan sebelum seluruh hasilnya bisa dinikmati.
Yang membuat petani semakin kecewa bukan hanya kehilangan tanaman.
Mereka mempertanyakan cara lahan tersebut dibuka dan diratakan.
Kartadinata mengaku tidak ada sosialisasi secara langsung sebelum kegiatan tersebut dilakukan oleh pihak BUMN atau pemilik lahan.
“Tidak ada sosialisasi secara langsung. Tidak ada surat yang dikirimkan kepada pemangku kepentingan di desa untuk disampaikan kepada petani penggarap,” ungkapnya.
Ditambah lagi, sampai saat ini juga belum ada penjelasan mengenai kompensasi atas tanaman milik petani yang terdampak.
Padahal, tanaman tersebut tidak tumbuh dalam semalam.
Petani mengeluarkan uang untuk bibit, pupuk dan perawatan. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat lahan yang sebelumnya terbengkalai menjadi produktif.
Ketika tanaman mulai tumbuh dan sebagian mulai berbuah, semuanya harus berakhir.
Para petani tidak hanya meminta agar pemerintah melihat kerugian yang mereka alami.
Editor : Frizky Wibisono