Warga dan Majelis Adat Sumedang Larang Tegas Tolak Proyek Geothermal Gunung Tampomas
Juru Kampanye Trend Asia, Meike Inda Erlina, juga menyoroti potensi risiko pencemaran yang perlu diperhatikan dalam pengembangan proyek geothermal. Ia menyebut hidrogen sulfida (H2S) dan arsenik sebagai zat berbahaya yang perlu diwaspadai apabila terjadi paparan atau pencemaran.
“Risiko ini tidak pernah diinformasikan oleh perusahaan atau negara ketika membangun proyek, terutama geothermal. Janjinya selalu soal peningkatan ekonomi daerah, padahal pengetahuan ini penting dan harusnya menyejahterakan semua orang, bukan untuk melegitimasi kepentingan yang menguntungkan segelintir elite,” kata Meike.
Meike juga menyinggung pengalaman warga di kawasan Dieng yang menurutnya menghadapi persoalan paparan zat pencemar. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kekhawatiran kelompok penolak terhadap risiko lingkungan yang dinilai perlu dikaji secara terbuka sebelum proyek dilanjutkan.
Sementara itu, peneliti Gunung Institute, Pepep DW, menilai pengalaman masyarakat di daerah yang telah mengembangkan geothermal perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.
Menurut Pepep, terdapat perbedaan antara argumentasi yang didasarkan pada perhitungan atau teori dan argumentasi yang bertumpu pada pengalaman empiris masyarakat di lapangan.
“Ada dua sumber argumentasi. Pertama, argumentasi apriori yang didasarkan pada perhitungan dan rumusan rasio. Argumentasi ini yang digunakan pemerintah dan perusahaan untuk menyampaikan bahwa geothermal aman, ramah lingkungan, dan bagian dari energi terbarukan. Kedua, argumentasi aposteriori, yang didasarkan pada kenyataan yang telah terjadi dan merupakan pengalaman empiris,” ujarnya.
Pepep mencontohkan pengalaman masyarakat di kawasan Gunung Slamet dan Kamojang sebagai hal yang menurutnya perlu dikaji sebelum pengembangan proyek serupa dilakukan di Gunung Tampomas.
Editor: Frizky Wibisono