Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pria di Sumedang Tewas Diduga Disekap dan Dianiaya, Keluarga Minta Pelaku Ditangkap
Advertisement . Scroll to see content

Warga dan Majelis Adat Sumedang Larang Tegas Tolak Proyek Geothermal Gunung Tampomas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:24 WIB
  • author Iqbal Maulana Bahtiar
Warga dan Majelis Adat Sumedang Larang Tegas Tolak Proyek Geothermal Gunung Tampomas
Warga kaki Gunung Tampomas bersama Majelis Adat Sumedang Larang menolak rencana proyek panas bumi melalui audiensi dengan DPRD Kabupaten Sumedang. Foto : iNewssubang.id/Iqbal maulana bahtiar

 

SUMEDANG, iNEWSSubang.id – Warga kaki Gunung Tampomas bersama Majelis Adat Sumedang Larang dan jaringan organisasi masyarakat sipil menegaskan penolakan terhadap rencana proyek panas bumi (geothermal) di Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Penolakan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama DPRD Kabupaten Sumedang, Rabu (21/10/2026). Aksi diikuti warga dari sejumlah wilayah, di antaranya Narimbang, Conggeang Kulon, Sekarwangi, Cilangkap, Legok Kidul, Cibeureum Kulon, Padaasih, dan Sukamantri.

Warga menilai rencana proyek geothermal berpotensi mengancam ruang hidup, kelestarian lingkungan, serta sumber air yang selama ini menopang kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Tampomas.

Bagi masyarakat setempat, Gunung Tampomas bukan sekadar kawasan yang memiliki potensi energi, melainkan bagian penting dari ekosistem yang menyediakan sumber air, mendukung lahan pertanian, dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Dalam audiensi tersebut, warga membawa dua galon air sebagai simbol kekhawatiran terhadap dampak proyek panas bumi. Satu galon berisi air bersih dari Desa Narimbang, sedangkan galon lainnya berisi air yang menurut warga berasal dari kawasan Dieng dan terlihat kotor serta berbau.

Pepen, warga Narimbang, mengatakan air tersebut dibawa untuk menunjukkan kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan dampak proyek geothermal terhadap sumber air di kampung mereka.

“Air itu saya dapat dan bawa dari Dieng. Kotor dan berbau. Saya tidak mau ke depan kampung saya menjadi demikian. Air mau bagaimanapun adalah syarat kehidupan,” ujar Pepen.

Ia berharap pengalaman masyarakat di daerah lain menjadi pelajaran agar rencana pengembangan energi panas bumi di Gunung Tampomas dikaji secara menyeluruh, terutama terkait keselamatan lingkungan dan keberlangsungan sumber air.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut