“Saya selaku Pengurus Jakmania Subang sudah beberapa kali berkomunikasi dengan pengurus Persib Fans dan mendapatkan respons yang sangat baik tentang rivalitas yang sehat, seperti tidak ada ujaran kebencian, rasisme, seksisme, vandalisme, dan kriminalisme,” jelasnya.
Upaya dialog tersebut dinilai sangat penting karena menjadi fondasi perdamaian sepakbola di akar rumput. “Kami ini tetangga, besok pasti bertemu lagi setelah pertandingan. Jadi tanggung jawab sosialnya jauh lebih terasa,” ujar Zaelani.
Kesadaran akan pentingnya menjaga rivalitas juga lahir dari ingatan kolektif atas tragedi masa lalu. Tragedi Kanjuruhan masih membekas sebagai luka mendalam yang terus menjadi bahan refleksi komunitas suporter di berbagai daerah, termasuk Subang.
“Karena dari hasil pertemuan serta perbincangan, kita selalu berkaca dengan tragedi Kanjuruhan, bahkan korban-korban yang meninggal karena rivalitas buta yang menyebabkan tangis dan rasa kehilangan,” tuturnya serius.
Bagi warga Subang, refleksi ini terasa lebih dekat dan personal. Kedekatan emosional dengan Jakarta dan Bandung membuat rasa kehilangan seolah bisa menimpa siapa saja, termasuk sanak saudara sendiri.
Harapan pun disematkan agar Subang dapat menjadi contoh tumbuhnya rivalitas yang dewasa dan beradab. Di daerah ini, pemandangan anak mengenakan jersey Persib karena mengikuti kakaknya, sementara sang ayah tetap setia pada Persija, adalah hal biasa. Perdebatan sengit kerap terjadi di ruang keluarga, namun sering berakhir dengan canda dan tawa.
Para suporter di Subang belajar memusuhi tim lawan, tanpa memusuhi manusia di balik warna jersey tersebut. Mereka memahami bahwa mencintai klub kebanggaan tidak harus diwujudkan dengan merendahkan atau melukai pihak lain.
Pada akhirnya, Subang sebagai wilayah “perbatasan” justru menawarkan formula damai bagi wajah rivalitas sepakbola Indonesia. Menjelang derby 11 Januari 2026, ujian bukan hanya bagi suporter di Jakarta dan Bandung, tetapi juga bagi daerah-daerah penyangga seperti Subang.
Akal sehat diharapkan benar-benar menjadi kompas, agar sepakbola kembali berfungsi sebagai perekat sosial, bukan pemantik petaka. Dengan begitu, kisah rivalitas yang diwariskan dari masa kecil akan tetap menjadi kenangan hangat, bukan luka yang tak kunjung sembuh.
Editor : Yudy Heryawan Juanda
Artikel Terkait
