Sementara itu, Pengelola Pesona Bumi Cihuni, Gunawan, mengatakan pengembangan kawasan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan kenyamanan pengunjung dan kelestarian lingkungan.
“Awalnya tempat ini merupakan lahan bekas galian pasir yang sempat terbengkalai. Kami kemudian berupaya menatanya menjadi kawasan wisata alam yang lebih nyaman dan bisa dinikmati semua kalangan,” jelas Gunawan.
Saat ini, sejumlah fasilitas telah tersedia, di antaranya area pemancingan, wahana berkuda, serta edukasi peternakan, termasuk kegiatan belajar beternak dan berkurban.
Pengelola juga tengah membangun arena bermain anak berbasis alam dengan memanfaatkan material seperti kayu, pohon, dan ban bekas yang ditata agar aman digunakan anak-anak berusia satu hingga sepuluh tahun.
Dari sisi biaya, pengunjung belum dikenakan tiket masuk alias gratis karena proses pembangunan dan penataan kawasan masih berlangsung.
Meski begitu, sejumlah fasilitas khusus sudah dapat dinikmati dengan tarif terjangkau. Untuk wahana berkuda kategori fun ride atau berkuda santai sebanyak dua putaran dengan pendampingan, tarifnya Rp20 ribu untuk anak-anak dan Rp25 ribu untuk dewasa.
Pengunjung yang ingin belajar berkuda juga dapat mengikuti program trial selama 30 menit dengan biaya Rp100 ribu. Sementara les berkuda kategori serius berdurasi 45 menit dikenakan tarif Rp125 ribu per pertemuan.
Tersedia pula paket keanggotaan selama dua bulan atau empat kali pertemuan dengan biaya Rp600 ribu.
Gunawan berharap seluruh fasilitas yang sedang dikembangkan dapat segera rampung sehingga Pesona Bumi Cihuni semakin dikenal masyarakat luas.
“Kami berharap ke depan kawasan ini bisa semakin berkembang dan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Subang. Tidak hanya untuk rekreasi keluarga, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan outbound, perkemahan, hingga company gathering,” ungkapnya.
Dengan konsep wisata alam yang terus dikembangkan, Pesona Bumi Cihuni diharapkan menjadi alternatif tujuan rekreasi masyarakat sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi bagi warga sekitar.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
