SUBANG, iNEWSSubang.id – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyoroti realisasi Kredit Program Perumahan (KPP) Bank BJB yang masih rendah. Ia mendesak Bank BJB meningkatkan kinerja penyaluran agar lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha mendapat akses pembiayaan.
Hal tersebut disampaikan Maruarar saat menghadiri kegiatan Kolaborasi Program Pembiayaan Perumahan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Bank BJB di Aula Pemda Subang, Jawa Barat, Senin (5/10/2026).
Maruarar mengatakan pemerintah terus mendorong agar pembiayaan perumahan dapat diakses masyarakat secara luas, cepat, mudah, murah, transparan, dan tepat sasaran. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung Program 3 Juta Rumah.
Ia juga meminta proses penyaluran KPP, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan, dipastikan berjalan tanpa pungutan liar.
“Kita harus mengecek langsung proses KUR Perumahan ini kepada nasabah. Kita harus memastikan prosesnya cepat, murah dan mudah serta tidak ada pungli,” ujar Maruarar.
Berdasarkan data hingga 3 Oktober 2026, realisasi KPP secara nasional telah mencapai Rp26,78 triliun yang disalurkan kepada 112.713 debitur. Capaian tersebut mencapai 69,62 persen dari target Rencana Teknis Perbankan (RTP).
Program KPP tersebut didukung 29 bank yang terdiri dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan bank swasta.
Untuk Jawa Barat, realisasi KPP tercatat mencapai Rp4,19 triliun atau sekitar 64,88 persen dari target.
Sementara itu, Bank BJB yang menjadi salah satu penyalur KPP menargetkan pembiayaan kepada 1.286 debitur pada 2026 dengan alokasi sekitar Rp500 miliar.
Namun hingga Oktober 2026, realisasi penyaluran KPP Bank BJB baru mencapai Rp90,7 miliar kepada 179 debitur atau sekitar 17 persen dari target.
Kondisi tersebut mendapat sorotan langsung dari Maruarar. Ia meminta Bank BJB tidak hanya menjadi penonton dalam program pembiayaan yang memiliki potensi besar di Jawa Barat.
“Dari data itu, Pak Sekda, saya yakin Pak Sekda sebagai Komisaris Bank Jabar, kinerjanya sangat memprihatinkan,” tegas Maruarar.
Maruarar juga menyinggung posisi Bank BJB dalam penyaluran KUR Perumahan. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Bank BJB yang pada 2025 berada di peringkat pertama, pada 2026 turun ke peringkat keempat.
“Tahun lalu Bank Jabar juara satu. Sekarang sama Bank Bali kalah, sama Bank Jawa Tengah kalah, sama Bank Jawa Timur kalah. Sekarang nomor empat, sayang sekali,” katanya.
Menurut Maruarar, Jawa Barat memiliki potensi UMKM yang besar sehingga Bank BJB perlu mengambil peran lebih aktif dalam menyalurkan pembiayaan.
“UMKM ini di Jawa Barat banyak banget. Jangan Bank Jabar menjadi penonton,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman yang turut hadir dalam kegiatan tersebut membenarkan data yang ditampilkan terkait realisasi KPP Bank BJB.
“Benar, Pak. Tidak ada manipulasi data. Ini kinerja asli Bank Jabar,” kata Herman.
Herman menjelaskan penurunan kinerja Bank BJB pada 2026 tidak terlepas dari dua fokus yang sedang dijalankan, yakni proses pemulihan sekaligus menjaga kinerja bisnis.
Menurutnya, Bank BJB harus menjaga keseimbangan antara prinsip kehati-hatian dalam perbankan atau prudensial dengan pertumbuhan bisnis.
“Memang ini berat, tapi untuk memastikan Bank Jabar stabil, Bank Jabar sehat, dan sekarang sudah recovery,” ujarnya.
Herman menargetkan realisasi KPP Bank BJB dapat meningkat hingga sekitar Rp200 miliar pada Oktober 2026. Bank BJB, kata dia, akan mengejar sisa target pada November dan Desember.
“Insyaallah bulan Oktober ini closing Rp113 miliar. Kurang lebih realisasi di Rp200 miliar sehingga bisa menembus bulan Oktober ini 40 persen. Kami akan kejar November dan Desember,” katanya.
Untuk mengejar target tersebut, Herman mengatakan Bank BJB akan memperkuat pendekatan langsung ke lapangan serta menyisir seluruh sektor dalam ekosistem pembiayaan.
“Cara ngejarnya gimana? Ya tentu dengan optimasi ke lapangan. Cek, recheck, crosscheck, dan pendekatannya harus ekosistem, baik di funding maupun di lending, di supply maupun di demand, semuanya harus disisir,” tuturnya.
Maruarar kemudian mendorong Bank BJB terus meningkatkan penyaluran KPP agar manfaat program tersebut dapat dirasakan lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha.
“Saya doakan Bank Jabar kembali ke peringkat satu, tentunya dengan semangat, kerja keras dan lebih cepat karena program KUR Perumahan ini sangat bermanfaat dan menyentuh langsung rakyat,” pungkas Maruarar.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
