Bertetangga tapi Berbeda Warna, Kisah Rivalitas Persija–Persib yang Hidup Damai di Subang
SUBANG, iNewsSubang.id – Kabupaten Subang, Jawa Barat, menyimpan kisah menarik tentang denyut rivalitas terbesar dalam sepakbola nasional. Secara letak geografis dan ikatan budaya, Subang berdiri di antara dua poros besar: Jakarta sebagai pusat kekuasaan dan ekonomi, serta Bandung yang dikenal sebagai simbol kebanggaan budaya Pasundan. Posisi unik ini menjadikan Subang cermin kecil rivalitas Persija Jakarta dan Persib Bandung—sebuah persaingan yang melampaui sekadar warna oranye dan biru, menyentuh soal identitas, loyalitas, hingga memori masa kecil yang diwariskan lintas generasi.
Di wilayah ini, rivalitas tak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Pendukung Persija dan Persib hidup berdampingan, saling bertetangga, terikat hubungan keluarga, bahkan berbagi ruang kerja yang sama. Pilihan klub sering kali bukan ditentukan oleh jarak kota, melainkan oleh ikatan emosional, nilai yang diyakini, serta cerita lama yang diturunkan dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Dalam konteks tersebut, pernyataan Zaelani, Pengurus Jakmania Subang, menjadi perhatian. Ia menekankan bahwa rivalitas harus tetap dirawat, namun diarahkan ke jalur yang sehat dan membangun.
“Menurut saya untuk di era sekarang ini rivalitas dalam sepakbola memang harus tetap ada dengan beradu kreativitas dengan hal-hal positif, tidak mengandung ujaran kebencian,” ujar Zaelani.
Ia menyadari, bagi daerah seperti Subang, tensi persaingan yang tinggi adalah hal yang tak terelakkan. Namun batasnya harus jelas. “Kami sadar, warna kesebelasan tidak boleh merusak tenun sosial yang sudah terjalin lama,” tambahnya.
Atmosfer rivalitas itu dipastikan kembali menghangat menjelang laga besar yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 11 Januari 2026. Pertandingan ini kerap disebut sebagai “hajatannya sepakbola Indonesia”, karena mempertemukan dua kekuatan besar dengan basis suporter terbesar dan sejarah persaingan yang panjang.
“Pada hari Minggu tanggal 11 Januari 2026 akan berlangsung hajatannya sepakbola Indonesia. Di situ ada dua kubu supporter besar dengan rivalitas yang masih melekat. Saya harap agar selalu menggunakan akal sehat,” kata Zaelani.
Derby nasional ini bukan hanya soal 90 menit di atas lapangan. Ia menjelma menjadi peristiwa budaya yang kerap membelah ruang keluarga dan lingkar pertemanan dengan garis-garis imajiner. Di situlah kedewasaan suporter diuji, apakah rivalitas hadir sebagai ekspresi sportivitas dan kreativitas, atau justru berubah menjadi sumber konflik.
Untuk menjaga rivalitas tetap sehat, komunikasi lintas komunitas suporter di tingkat daerah terus dibangun. Zaelani mengungkapkan, pihaknya secara aktif menjalin dialog dengan pengurus Persib Fans di Subang.
Editor : Yudy Heryawan Juanda