Sekda Subang Dorong Santri Jadi Pelaku Perubahan di Era Perkembangan Zaman
SUBANG, iNEWSSubang.id — Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Subang Rona Mairansyah mendorong para santri memiliki kemampuan yang lengkap agar mampu menjadi pelaku perubahan di tengah perkembangan zaman.
Hal tersebut diungkapkannya saat menghadiri International Seminar on Waqf and The Launch of The 2026 National Santri Day, Subang Regency di Gedung Auditorium STIUSA Subang, Pondok Pesantren Al-Ihya Cidahu, Senin (5/10/2026).
Menurut Rona, santri tidak cukup hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi juga perlu memiliki wawasan luas, akhlak yang baik serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Kita ingin santri menjadi pelaku perubahan. Tentunya harus diimbangi dengan kemampuan yang lengkap, kuat dalam iman, luas dalam ilmu, baik dalam akhlak dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata Rona.
Rona mengatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan Kabupaten Subang. Karena itu, pembangunan tidak hanya diarahkan pada sektor industri, investasi dan ekonomi.
“Manusia semakin berkualitas, berkarakter, berakhlak, berilmu, dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Ia menilai lingkungan pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang memiliki karakter dan nilai-nilai keislaman.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan seminar internasional yang mengusung tema “Waqf Based Education: Building Sustainable Institutions Through Innovative Waqf Management” dan diikuti sekitar 500 santri.
Dalam kesempatan tersebut, Rona juga mengapresiasi Pondok Pesantren Modern Al-Ihya yang menjadi tuan rumah kegiatan sekaligus bagian dari rangkaian Hari Santri Nasional 2026.
Menurutnya, perjalanan delapan tahun Pondok Pesantren Modern Al-Ihya menjadi bagian dari proses dalam membangun generasi melalui pendidikan, pembentukan akhlak dan penanaman nilai-nilai keislaman.
“Delapan tahun bukan sekadar hitungan waktu, tetapi merupakan perjalanan panjang dalam membangun generasi, menanamkan ilmu, akhlak, kedisiplinan, serta nilai-nilai keislaman kepada para santri,” kata Rona.
Selain mendorong peningkatan kapasitas santri, Rona menyoroti potensi wakaf dalam mendukung keberlanjutan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, wakaf tidak semata-mata berkaitan dengan aset berupa tanah atau bangunan, tetapi bagaimana aset tersebut dikelola secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas.
“Wakaf tidak semata-mata berbicara tentang aset atau tanah, tetapi bagaimana sebuah kebaikan dapat dikelola secara berkelanjutan dan bermanfaat,” tuturnya.
Rona berharap seminar tersebut dapat melahirkan gagasan yang dapat memperkuat pengelolaan wakaf sekaligus mendukung pendidikan pesantren dan pemberdayaan ekonomi umat di Kabupaten Subang.
“Semoga gagasan-gagasan yang lahir dari seminar ini dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat ekosistem wakaf, pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, dan pembangunan sosial di Kabupaten Subang,” pungkasnya.
Editor: Frizky Wibisono